Minggu, 27 Maret 2011

Kebijakkan Di Minggu Pagi

Ya di Minggu pagi ini aku putuskan untuk berolahraga di taman kota.Sesekali aku berlari kecil dan melakukan warming up sekedar meregangkan otot – ototku yang tegang karena rutinitas pekerjaanku. Mungkin karena adanya keheningan sunyi senyap sebab aku yang pertama bangun pagi, atau mungkin juga karena tak terkira gembiraku sebab tak  usah masuk kerja. Apapun alasannya, beberapa jam pertama Minggu pagi amat menyenangkan.Saat aku suda
h mengelilingi taman kota,tampak aku lihat seseorang lelaki agak tua dengan candanya bersama cucunya.Terlihat jelas dia begitu menikmati bahagia di Minggu pagi ini,walau sesekali kuperhatikan dia diam termenung memperhatikan tingkah lucu cucunya yang asyik bermain di arena permainan.

Nafasku sudah terengah-engah karena jarang berolahraga,akupun duduk di bangku dekat dimana tempat kakek itu menjaga cucunya.Kumatikan pemutar music dan kulepas earphone yang dari
tadi menyumbat pendengaranku.Kakek itu tersenyum melihatku,aku yang masih sibuk mengatur nafas karena sedikit tersengal aku memebalas senyum hangatnya.

Dia menawarkan sebotol air mineral kepadaku,kini aku tepat ada di sebelahnya untuk menerima tawarannya itu.Dari sini obrolanpun terbuka,mulai dari siapa aku,namaku,pekerjaan dan segala hal sebagaimana percakapan di awal perkenalan.

Akupun memberanikan diri untuk mengajukan sebuah pertanyaan kepadanya.”Maaf kek,dari tadi saya perhatikan kakek tampak begitu bergembira namun seringkali tampak termenung panjang dalam kegembiraan?”ucapku.Semoga pertanyaan yang aku ajukan tidak menyinggung perasaannya.


“Dengar Don, dengan suara serak yang keemasannya dia bergumam.Kedengarannya kau memang sibuk dengan pekerjamu. Aku yakin mereka menggajimu cukup banyak,tapi kan sangat sayang sekali kau harus meninggalkan rumah dan keluargamu terlalu sering.Sulit kupercaya kok ada anak muda yang harus bekerja 60 atau 70 jam seminggunya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.Untuk sekedar menjemput putrimu dari sekolahpun kau tak sempat”.

Ia melanjutkan : “Biar kuceritakan ini, Don,sesuatu yang membantuku mengatur dan menjaga prioritas apa yang yang harus kulakukan dalam hidupku”.
Lalu mulailah ia menerangkan teori “seribu kelereng” nya.” Begini Don,suatu hari aku duduk-duduk dan mulai menghitung-hitung.Kan umumnya orang rata-rata hidup 75 tahun.Ya aku tahu, ada yang lebih dan ada yang kurang,tapi secara rata-rata umumnya kan sekitar 75 tahun.
Lalu,aku kalikan 75 ini dengan 52 dan mendapatkan angka 3900 yang merupakan jumlah semua hari Minggu yang rata-rata dimiliki seseorang  selama hidupnya.Sekarang perhatikan benar-benar Don,aku mau beranjak ke hal yang lebih penting”.

“Tahu tidak,setelah aku berumur 55 tahun baru terpikir olehku semua detail ini”,sambungnya, “dan pada saat itu aku kan sudah melewatkan 2800 hari Minggu.Aku terbiasa memikirkan,andaikata aku bisa hidup sampai 75 tahun,maka buatku cuma tersisa sekitar 1000 hari Minggu yang masih bisa kunikmati”.

“Lalu aku pergi ke toko mainan dan membeli tiap butir kelereng yang ada.Aku butuh mengunjungi tiga toko,baru bisa mendapatkan 1000 kelereng  itu.Kubawa pulang,kumasukkan dalam sebuah topeles plastik bening besar yang kuletakkan di tempat kerjaku,dekat rak buku.Setiap Minggu sejak itu,aku selalu ambil sebutir kelereng dan membuangnya”.

“Aku alami, bahwa dengan mengawasi kelereng-kelereng itu menghilang,aku lebih memfokuskan diri pada hal-hal yang betul-betul penting dalam hidupku.Sungguh,tak ada yang lebih berharga daripada mengamati  waktumu di dunia ini menghilang dan berkurang,untuk menolongmu membenahi dan meluruskan segala prioritas hidupmu”.

“Sekarang aku ingin memberikan pesan terakhir sebelum kuakhiri bincang – bincang ini dan mengajak keluar cucuku tersayang untuk bermain dipagi ini.
Pagi ini,kelereng terakhirku telah kuambil,kukeluarkan dari kotaknya.Aku berfikir,kalau aku sampai bertahan hingga Minggu yang akan datang,maka Allah telah memberi aku dengan sedikit waktu tambahan untuk kuhabiskan dengan orang-orang yang kusayangi”.
“Senang sekali bisa berbicara denganmu,Don.Aku harap kau bisa melewatkan lebih banyak waktu dengan orang-orang yang kau kasihi,dan aku berharap suatu saat bisa berjumpa denganmu.Selamat pagi!”

Saat dia berhenti,begitu sunyi hening, jatuhnya satu jarumpun bisa terdengar ! Untuk sejenak,bahkan anginpun seakan membisu.Mungkin ia mau memberiku,kesempatan untuk memikirkan segalanya.Sebenarnya aku sudah merencanakan mau bekerja pagi ini,tetapi aku ganti acara,aku segera pulang,lalu naik ke atas dan membangunkan istriku dengan sebuah kecupan.
“Ayo sayang,kuajak kau dan anak-anak ke luar, pergi sarapan”. “Lho, ada apa ini…?”,tanyanya tersenyum.  “Ah,tidak ada apa-apa, tidak ada yang spesial”,jawabku, “Kan sudah cukup lama kita tidak melewatkan hari Minggu dengan anak-anak ?Oh ya, nanti kita berhenti juga di toko mainan ya? Aku butuh beli kelereng.”

Dari setiap satu kelereng yang telah terbuang,apakah yang telah anda dapatkan ?
Apakah ……..
kesedihan
keraguan
kebosanan
rasa marah
putus asa
hambatan
permusuhan
pesimis
kegagalan ?
ataukah …….
kebahagiaan
kepercayaan
antusias
cinta kasih
motivasi
peluang
persahabatan
optimis
kesuksesan ?
Waktu akan berlalu dengan cepat.Tidak banyak kelereng yang tersisa dalam kantong anda saat ini.Gunakan secara bijak untuk memberikan kebahagiaan yang lebih baik bagi anda sendiri, keluarga dan lingkungan anda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar